Minggu, 27 Januari 2013

Rekonstruksi Sejarah Di Sanata Dharma


Seluruh bangsa di dunia ini tentu memiliki sebuah sejarah. Baik sejarah yang ingin selalu dikenang maupun sejarah kelam yang ingin dilupakan. Namun satu hal yang pasti, bahwa semua sejarah entah itu sejarah gemilang maupun sejarah kelam sudah seharusnya sejarah merupakan sebuah kebenaran hakiki, karena sejarah bukanlah sekedar sebuah peristiwa lampau yang direkonstruksi oleh para pemenang.

Hari itu adalah hari Jum’at, hari yang dianggap suci olehku dan oleh jutaan umat muslim lainnya di seluruh penjuru dunia. Tidak seperti biasanya, pada hari Jum’at itu, aku telah memiliki janji untuk interview dengan salah satu perusahaan di Kota Gudeg. Dengan berpakaian rapi ala kadarnya yang ku bawa dari Jember, sepeda motor dengan kekuatan 110 cc yang ku pinjam dari sahabatku yang menjadi seorang takmir di salah satu masjid di Kota Solo, aku pun telah siap untuk berdebu dan terpanggang teriknya sengatan sinar matahari menyusuri ruas jalan Solo-Jogja. Jarak dari Solo ke Jogjakarta sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 65 km atau hanya sekitar satu jam setengah bila kita tempuh dengan kendaraan roda dua.
Namun motivasi ku berangkat ke Kota Jogja tidak hanya untuk sekedar interview saja. Ada satu hal menarik lainnya yang menjadikan motivasiku terlecut untuk segera berangkat ke Kota Gudeg. Hal menarik itu ialah menghadiri acara diskusi tertutup pemutaran film The Act Of Killing di Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Aku mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut dari temenku Sven yang berdomisili di Hamburg Jerman. Ya, kami (aku dan Sven) tidak sengaja pernah bertemu di angkringan Lek Man di kawasan angkringan di sebelah Stasiun Tugu Jogjakarta. Dan pertemuan tersebut ternyata menjadikan kami akrab dan mengenal satu sama lain. Sven jugalah orang yang mengenalkan ku dengan Pak Baskara T. Wardaya seorang Romo Yesuit yang menjadi dosen di Universitas Sanata Dharma.
Pada Kamis malam, Sven sempat mengirimkan sebuah pesan pendek, “Gangsar buka e-mail dari Saya.” Aku pun yang malam itu baru saja menginjakkan kaki di Kota Solo, langsung log-in di account e-mailku dan membuka e-mail dari Sven. “Gangsar besok kalau bisa hadir di acara diskusi tertutup pemutaran film The Act Of Killing,”ujar Sven dalam e-mailnya Film The Act Of Killing? Ujarku dalam hati. Karena rasa penasaran yang membuncah, pada malam itu juga aku pun berusaha untuk mencari tahu film tersebut (The Act Of Killing). Jari-jariku segera mengetik sebuah alamat web sebuah situs pencari video. Setelah situs tersebut terbuka, akupun segera mengetikkan judul film tersebut dan tidak perlu memakan waktu yang lama, film yang ku maksud ku pun keluar. Namun naas, di situs tersebut hanya terdapat video dengan durasi yang sangat pendek. Aku dan temanku  pun segera menontonnya, tapi kita berdua tak kunjung mengerti apa yang dimaksud dari film ini dan pesan apa yang ingin disampaikan melalui film ini.
Tak terasa sepeda motor yang ku tunggangi mulai memasuki Kota Jogja dan meninggalkan Kota Klaten. Siang itu matahari bersinar sangat terik di Kota Jogja. Aku pun segera mengarahkan sepeda motor ke arah ring road menuju Magelang. Karena alamat perusahaan tersebut ialah berada di Jalan Magelang, KM 4. Jam di telepon genggam ku menunjukkan pukul 12.00. Sudah saatnya Jum’atan seruku. Aku pun segera menepikan kendaraanku dan bertanya kepada salah seorang penjual es, “Pak dateng mriki pundi nggih masjid sing caket?” ujarku dalam bahasa Jawa Kromo. “Niku Mas, dateng gang seberang wonten masjid.” Tidak berpikir lama, akupun melihat ada beberapa pria yang bersepeda motor dan tidak mengenakan helm. Pria-pria tersebut pasti menuju masjid pikirku dalam hati. Akupun segera mengikutinya dari belakang.
Tiba di masjid, ternyata khotib telah naik ke atas mimbarnya dan telah memulai khotbah Jum’at yang telah dipersiapkannya. Aku pun segera melepas sepatu, tas dan jaket serta bergegas pergi untuk mensucikan diri. Setelah sholat koblal Jum’at akupun duduk seperti jamaah lainnya. Karena aku datang telat, tidak lama sholat Jum’at pun dimulai. Setelah sholat Jum’at, aku sempatkan bibir ini untuk meminta kepada Sang Khalik agar diberikan kemudahan pada saat interview dan diberikan jalan terbaik dari sisi-Nya. Aku pun aku segera mengenakan kembali peralatan berkendara ku dan mencari alamat kantor tersebut.
Kantor tersebut tidak terlalu besar, namun kendaraan yang parkir di pelataran parkir di depannya cukup banyak dan didominasi oleh kendaraan roda dua. Aku pun segera memasuki kantor, di meja depan kedua receptionist langsung melemparkan senyum dan melaksanakan tugasnya. “Ada yang bisa dibantu?” sapa seorang receptionist. Aku pun segera menyampaikan maksud kedatanganku. “Oh atas nama Bapak Gangsar ya.” “Tunggu sebentar ya, Bapak Hendranya sedang istirahat.” “Oh ya Mbak,” seruku. Sambil menunggu, aku pun menyempatkan diri untuk membaca buku yang ku beli ketika aku berkunjung ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao - Kopi, Seduhan & Kesehatan – menemaniku hingga Pak Hendra datang dan mempersilakan aku masuk ke dalam ruangannya. Ya sama dengan wawancara kerja sebelumnya, pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Hendra ialah seputar kepribadian, latar belakangku dan apa yang aku ketahui mengenai perusahaan ini. Wawancarapun tak berlangsung lama, hanya sekitar setengah jam. Satu pengalaman berharga yang ku dapat dari wawancara-wawancara sebelumnya dan ingin ku terapkan ialah, jadilah dirimu sendiri dan jawab seluruh pertanyaan dengan jujur. Tidak membohongi diri sendiri. Masalah hasil, ah entahlah, biarlah itu menjadi urusan Yang Maha Esa. “Bapak Gangsar, nanti Kami hubungi lagi, paling cepat nanti sore dan paling lama hari Senin besok,” ujar Pak Hendra menutup tugasnya.
Aku pun segera mohon diri dan tidak lupa mengucapkan terima kasih sambil melemparkan senyum. Begitu di luar, aku bergegas mengambil sepeda motor dan langsung melesat menuju Universitas Sanata Dharma. Universitas Sanata Dharma terletak di daerah Gejayan. Tidak lama, sepeda motorku mulai memasuki pelataran Universitas Sanata Dharma. Setelah sepeda motor ku parkir, aku segera merogoh saku celanaku untuk mengambil ponselku. Di layar ponselku menunjukkan ada beberapa SMS, satu diantaranya dari Sven. “Gangsar Kamu di mana?” “Bapak Baskara mencari Mu,” ujar Sven dalam pesan pendeknya. Aku pun segera membalas SMS dari Sven. Sambil menunggu balasan SMS dari Sven, aku pun segera menghampiri petugas keamanan yang sedang berjaga. “Pak acara diskusi pemutaran film The Act Of Killing dateng pundhi nggih?” “Lha niku acarane sinten Mas?” “Pak Baskara,” jawabku sambil tergopoh-gopoh. “Oh, niku Mas, njenengan mlampah mawon, mangke menggok kanan,” ujar petugas keamanan seraya tangannya menuntun pandanganku menuju tempat yang dia maksud.
Baru berjalan meninggalkan pos keamanan, Sven menelponku. Dari seberang ponselku, Sven berbicara lantang, “Gangsar Kamu di mana?” “Ini Sven Saya sedang mencari tempat diskusinya.” Beberapa meter di depan, aku melihat sosok seorang bule sambil memegang ponselnya. Aku pun spontan mengakhiri panggilan dari Sven dan berteriak memanggil-manggil nama Sven. “Ah Gangsar, lama kita tidak bertemu ya,” ujar Sven sambil bersalaman dan berusaha untuk merangkul bahuku. “Ya Sven sudah lama Kita tidak bertemu,” jawabku. Aku dan Sven pun berjalan beriringan menyusuri lorong-lorong kelas. Ternyata lingkungan Universitas Sanata Dharma cukup sejuk, persis seperti sebuah bangunan rumah sakit yang teduh dengan berbagai tumbuhan. Aku yang pernah mengunjungi beberapa kampus dan sekolah-sekolah Katolik selalu menemukan sebuah lingkungan yang hampir sama. Teduh dan bangunannya memiliki arsitektur seperti bangunan kuno. Apa memang seperti itukah (lingkungan yang teduh dan bangunan dengan arsitektur kuno) suasana di sekolah-sekolah dan universitas-universitas Katolik? Pikirku dalam hati.
Tidak lama aku pun bertemu dengan Pak Baskara. “Bapak ini teman Saya Gangsar,” ujar Sven mengenalkanku. “Oh ini Gangsar yang mahasiswa Universitas Jember itu ya,” ujar Pak Baskara. “Ya Pak,” jawabku sedikit kikuk. “Ya Kita sempat saling kirim e-mail,” ujar Pak Baskara. Aku pun melihat ke sekeliling, ternyata ada beberapa peneliti asing yang juga menghadiri acara diskusi tersebut. “Áyo Kita mulai saja,” ajak Pak Baskara kepada kami semuanya. Kaki ini mulai melangkah memasuki sebuah ruangan audio visual. Ruangan itu ditata serapi mungkin. Kursi dan meja dibentuk menjadi sebuah persegi, agar peserta diskusi bisa saling melihat satu dengan yang lainnya, viewer digantungkan di langit-langit dan tidak lupa sepasang speaker tertata manis di sebelah note book yang berlogo sebuah apel yang digigit pada ujungnya.
Film pun dimulai, pada awal-awal aku benar-benar tidak mengerti apa maksud dari film ini. Namun lambat laun aku mulai mengetahui, film The Act Of Killing ingin menceritakan sebuah sisi kehidupan dari seorang Anwar Congo. Anwar Congo ialah seorang preman pada masanya, namun ia kemudian berafiliasi dengan Pemuda Pancasila. Tangan dinginnya telah banyak membunuh orang-orang yang dituduh menganut aliran komunis, menyebarluaskan ajaran komunis ataupun warga biasa yang justru tidak mengetahui apa-apa tentang apa itu komunisme, kapitalisme ataupun isme-isme lainnya.
Film dokumenter hasil tangan dingin Joshua Oppenheimer ini mengambil latar di salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara. Kami, peserta diskusi, digiring oleh Joshua Oppenheimer untuk mengenal lebih dekat sosok dari Anwar Congo. Dalam dialog film tersebut, Anwar Congo sering mengatakan bahwa preman sebenarnya merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa asing yakni free man yang dapat kita terjemahkan sebagai lelaki yang bebas. Pada tahun 1965, setelah terjadi pemberontakan oleh PKI, Anwar Congo dan Pemuda Pancasila lainnya mendapatkan mandat untuk benar-benar membersihkan ideologi komunis yang dapat mencemari ideologi pancasila.
Dalam film tersebut kami menyaksikan bagaimana Anwar Congo membunuh orang-orang yang dituduh memiliki ideologi komunis. Dan cara membunuh yang efektif dan tidak mengeluarkan banyak tenaga dan darah dari si korban menurut Anwar Congo ialah dengan cara dicekik. Bagaimana tidak keji, orang yang dituduh PKI setelah diintrogasi kemudian tangannya diikat dan didudukkan. Anwar Congo kemudian mengambil senjata andalannya yakni kawat. Dengan mengaitkan ujung kawat ke salah satu tiang dan melewatkan kawat tersebut ke batang leher tenggorokan korbannya, Anwar dengan dingin membunuh korbannya. “Selama Saya bertugas, Saya tidak pernah menggunakan celana panjang dengan warna cerah, karena kalau memakai celana panjang dengan warna cerah, bercak darah pasti akan terlihat,” ujar Anwar Congo ketika diwawancarai oleh Joshua Oppenheimer.
Melalui film tersebut, kami juga ditunjukkan cara lain bagaimana menghabisi nyawa orang. Cara ini tidak kalah sadis, bahkan menurutku sangat tidak berperikemanusiaan. Calon korban baik yang telah diintrogasi ataupun tidak dibunuh dengan cara, kepala mereka diletakkan di bawah kaki meja. Dengan posisi tangan dan kaki yang terikat tentu si korban tidak bisa berpindah tempat. Setelah kepalanya berada persis di bawah kaki meja, Anwar Congo dan teman-temannya duduk di atas meja sambil menikmati pemandangan dari lantai atas dan menyayikan lagu-lagu nasional seperti Halo-Halo Bandung, sambil bertepuk tangan dan berjingkat-jingkat. Tekanan yang cukup besar dari meja yang diduduki oleh Anwar Congo dan temannyalah yang dijadikan sebagai alat pembunuh. Anwar juga menyampaikan bahwa karung merupakan alat yang penting berikutnya. Karung. Ya jasad-jasad yang tidak berdosa itu kemudian dimasukkan ke dalam karung kemudian di buang.
Tidak sampai disitu, film ini juga mulai menguak pendapat salah seorang kawan akrab Anwar Congo yang juga berperan sebagai seorang eksekutor. Bagi kawan Anwar Congo, dirinya sangat siap ketika memang harus diadili di Den Hague. “Saya tidak takut, kalaupun Saya harus diadili.” “Malah Saya sangat siap dan menunggu waktu itu,” ujar kawan Anwar Congo ketika diwawancara oleh Joshua. “Bagi Saya sejarah ataupun kebenaran ialah sejarah dan kebenaran versi pemenang.”
Pada bagian akhir film ini, Joshua coba untuk menggali sisi psikologis baik dari Anwar Congo maupun temannya. Bahkan dalam film dokumenter tersebut Anwar Congo diposisikan seolah-olah sebagai korban yang tidak mengetahui apapun mengenai komunisme dan dia diintrogasi. Anwar yang telah diintrogasi kemudian disiksa. Namun siksaan itu hanyalah rekaan saja. Setelah bagian itu selesai Anwar pun menunjukkan bagian penyiksaan dirinya oleh pemuda pancasila kepada cucu-cucunya. Ekspresi cucu-cucu Anwar terlihat sedih. Bahkan untuk menghibur cucu-cucunya, Anwar mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah rekayasa. Tidak sampai disitu saja, ada bagian dari film tersebut yang juga menunjukkan hukum karma berlaku, Anwar disiksa tanpa ampun di tengah hutan. Ketika ditanya oleh Joshua baik Anwar maupun kedua temannya tidak sedikitpun mengalami trauma ataupun dihantui rasa bersalah.
Tak terasa film yang berdurasi hampir 3 jam tersebut selesai. Kami semua menghela napas panjang. Pak Baskara kemudian tampil ke depan dan mempersilahkan kepada peserta diskusi untuk menyampaikan pendapat ataupun menyampaikan pertanyaan. Pendapat pertama datang dari seorang dosen Sanata Dharma. “Romo boleh Saya menyatakan pendapat Saya,” ujarnya seraya meminta izin terlebih dahulu kepada Pak Baskara sebelum melanjutkan pertanyaannya. “Tentu boleh,” sahut Pak Baskara. “Begini Romo, setelah melihat film tersebut Saya jadi bertanya-tanya, apakah tujuan sebenarnya dari si pembuat film?” “Apakah ingin memberikan sebuah ruang bagi para keluarga korban, yang keluarganya dibunuh? “Naluri Saya sebagai seorang ibu sangat tidak tega jika melihat bagaimana, anak-anak ataupun keluarga yang dituduh anggota PKI semua terlantar dan mendapatkan perlakuan diskriminasi.” “Kita sebagai seorang Ibu, melahirkan anak-anak denga bertaruh nyawa, sedangkan Si Anwar Kongo dan teman-temannya dengan dingin dan tanpa rasa bersalah membunuh dengan mudahnya.” “Kalaupun film ini beredar di masyarakat, apakah mampu merekonstruksi ulang sebuah sejarah bangsa ini?” “Kalaupun bisa merekonstruksikan sebuah sejarah, tapi bukankah sama saja, peristiwa tersebut tidak bisa dirubah?”
Pak Baskara pun menjawab pertanyaan dari rekannya sesama dosen di Sanat Dharma. “Film ini tidak bisa disaksikan secara sendiri tanpa adanya sebuah pendampingan.” “Selain itu, Kita juga harus mempelajarinya secara komprehensif, tidak hanya sepenggal-sepenggal.” “Film ini juga tidak dimaksudkan sebagai sebuah jawaban.” “Dan jika Kita membuat film, tentu Kita akan memiliki keinginan menyampaikan sebuah pesan melalui film yang kita buat.” Setelah Pak Baskara mengutarakan pendapatnya, salah seorang peserta diskusi menyatakan pendapatnya. “Yang diungkapkan dalam film ini hanya sebagian saja.” “Kebetulan Saya berasal dari Sumatera Utara dan kebetulan juga Saya sedang penelitian untuk tesis Saya di sana.” “Saya menemukan fakta-fakta lain, karena sebenarnya pada tahun 1965, khususnya paska 30 September 1965, tidak semua petani-petani dibunuh, karena pemerintah yang pada saat itu yang ingin membersihkan ideologi komunis dari Indonesia masih memikirkan, bagaimana nasib perkebunan-perkebunan.” “Karena jika semua petani ‘dihabisi’ pemerintah pada akhirnya akan bingung juga siapa yang akan mengoperasionalkan perkebunan.” “Anwar Congo hanyalah algojo kecil, karena algojo besar sesungguhnya justru tidak tersentuh sama sekali.” “Jangan sampai setelah Kita nonton film ini, Kita justru bersikap antipati dengan Anwar Congo namun tidak bersikap antipati dengan algojo besar.”
Pendapat berikutnya hadir dari, Pak Pur. Pak Pur merupakan salah seorang korban. Korban dari pertautan ideologi yang sebenarnya beliau sendiri tidak mengerti akan hal itu. Pak Pur pun pernah di penjara di Pulau Buru bersama dengan Pramoedya Ananta Toer. “Saya sudah dikejar-kejar sejak Saya kelas 3 SMP dan Saya merasa paling aman ketika Saya berada di pasar malam.” “Pada saat itu menurut Saya, Mereka memang hanya ingin menyiksa.” “Bagaimana tidak ingin menyiksa, karena pertanyaan ketika Saya diintrogasi ialah pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal.” “Bisa kalian bayangkan, Saya yang masih kelas 3 SMP ditanya apakah Saya terlibat dalam pembunuhan panglima-panglima TNI AD.” Aku pun hanya tertawa pelan. Memang benar pendapat Pak Pur, logika dari mana yang bisa menunjukkan korelasi tersebut (anak SMP dituduh terlibat dalam pembunuhan panglima TNI AD). “Saya juga pernah punya teman, di mana teman saya, dituduh menyayat-nyayat tubuh panglima-panglima TNI AD.”
“Kala ditanya apakah Kami-kami ini yang mengalami perlakuan tidak manusiawi ini sakit hati dan dendam terhadap yang menganiyaya Kami.” “Jelas Kami sakit hati dan dendam pada saat itu, tapi tidak untuk sekarang.” “Silahkan, Anda bisa tanya kepada semua teman-teman Saya.” “Kami tidak dendam, yang Kami dapatkan ialah justru jangan sampai tragedi seperti ini terulang kembali di masa depan.” “Kita hanyalah korban, korban dari perseteruan blok barat dan blok timur,” ujar Pak Pur menutup pendapatnya.
Ibu Karen dari Amerika Serikat pun berpendapat bahwa film ini sebenarnya ingin menunjukkan perspektif yang berbeda. Karena film ini berusaha memberikan sebuah potret psikologis dari seorang eksekutor (Anwar Congo). Kita tadi menyaksikan bahwa sebagian gaya pembunuhan yang dilakukan oleh Anwar Congo terinspirasi dari film-film Holywood. Salah seorang peneliti asing pun mengeluarkan pendapatnya. “Memang dalam film tersebut Joshua terlihat tidak benar-benar bebas nilai.” “Kita bisa lihat dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. “Selain itu, Joshua juga mengatikan dengan demokrasi dunia ketiga.”
Pendapat lain dikemukakan oleh Pak Bambang. “Film ini telah membingkai keanekaragaman bangsa ini.” “Ada banalitas-banalitas yang membentuk mentalitas-mentalitas politik bangsa ini.” Pak Baskara kemudian mempersilahkan salah satu peserta diskusi yang kebetulan sedang membuat tesis dengan penelitian bagaimana respon anak-anak dan guru-guru mengenai adanya perubahan materi sejarah khususnya mengenai peristiwa G30S-PKI. “Menurut hasil penelitian Saya, anak-anak di sekolah swasta lebih terbuka dengan adanya perubahan materi sejarah ini.” “Namun, anak-anak di sekolah negeri lebih sulit untuk menerima adanya perubahan materi sejarah ini.” “Begitupun guru-gurunya.” “Guru-guru di sekolah negeri juga cenderung lebih sulit untuk menerima perubahan tersebut dibandingkan dengan guru-guru di sekolah swasta.”
Tiba-tiba Pak Baskara teringat akan papernya. “Saya memiliki sebuah data valid mengenai adanya intervensi asing dalam carut-marutnya kondisi perpolitikan di Indonesia pada saat itu (tahun 1965).” “Pada bulan Maret tahun 1965, di salah satu kota di Filipina.” “Pada saat itu ada pertemuan seluruh diplomat-diplomat Amerika yang bertugas di negara-negara di kawasan Asia.” “Dan diplomat Amerika yang bertugas di Indonesia mengatakan bahwa untuk menegah Indonesia jatuh ke kiri, Indonesia harus dibuat sebuah kudeta gagal.” “PKI kemudian diprovokasi untuk segera mengambil alih kekuasaan secara paksa dari Presiden Soekarno.” “Isu yang dihembuskan ialah jika PKI tidak mengambil alih kekuasaan dengan segera, TNI AD yang akan mengambil alih kekuasaan.” Argumen Pak Baskara membangkitkan rasa ingin tahuku. “Pak, kemudian apa yang ditawarkan oleh Amerika dan Inggris kepada PKI?” “Tidak ada yang ditawarkan Mas Gangsar.” “Logikanya kalau PKI segera mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno, maka PKI yang akan memimpin negeri ini.” “Kondisi seperti itu yang menjadikan TNI AD dan PKI saling bersaing.” “Apa lagi ketika PKI membunuh panglima-panglima TNI AD.” “TNI AD tentu tidak akan tinggal diam.”
“Kalau Inggris memprovokasi dengan cara menghembuskan isu pembentukan negara konfederasi Malaysia.” “Karena pada tahun 1964, diplomat-diplomat Inggris di New Zaeland mengatakan bahwa di Indonesia ini harus dibuatkan sebuah kudeta gagal.” “Setelah berhasil, dibentuklah sebuah rezim baru di Indonesia yang militeristik dan pro modal asing.” Aku pun bertanya kembali, “Pak bukankah sebenarnya Pak Harto pada saat itu sudah mengetahui akan adanya aksi kudeta yang akan dilakukan oleh PKI?” Ya, betul Mas Gangsar, sebenarnya Soeharto telah mengetahuinya.” “Hal ini semakin dikuatkan pada saat Saya mewawancarai salah satu petugas protokoler istana dan salah satu pasukan Cakrabhirawa, Pak Latief dan Pak Untung.” “Pak Latief sebenarnya sudah resah karena Presiden Soekarno berpidato lebih lama dari jadwal yang telah ditentukan.” “Dan ketika keganjilan ini terasa, ada seorang yang menanyakan, di mana duduknya Soeharto.” “Namun sudah dua orang ditanya mengenai posisi duduk Soeharto, tidak ada yang mengetahuinya.” Pak Baskara mengatakan,”Ya Soeharto sudah seharusnya duduk di kursi VIP, mengingat posisinya sebagai Pangkostrad.” “Lha ternyata memang benar, pada saat itu Soeharto tidak ada di sana, karena Soeharto berada di RSPAD Gatot Soebroto.” “Seharusnya kalau memang Soeharto sudah mengetahui akan adanya pemberontakan yang akan dilakukan oleh PKI, sudah seharusnya Soeharto melaporkan pada atasannya, bisa pada Achmad Yani misalkan.” Benar juga pikirku dalam hati. Apa ini memang sebuah skenario.
Tak terasa hampir pukul setengah tujuh malam, Pak Baskara pun menawarkan, “apa masih mau dilanjutkan atau kita sudahi?” “Karena sudah hampir lima jam Kita berada di sini.” “Baiklah kita sudahi diskusi hari ini.” “Oh ya untuk lima orang yang tadi sudah Saya hamipiri, jangan pulang dulu, karena ini ada mahasiswi S2 dari Denmark yang ingin meneliti, bagaiman respon warga Indonesia setelah menonton film ini.” “Habis ini akan ada wawancara yang mendalam.” Setelah Pak Baskara menutup acara diskusi, aku pun segera mohon diri. “Pak Saya pamit dulu, terima kasih buat seluruh penjelasannya.” “Oh ya Gangsar hati-hati ya di jalan.” “Sven Aku pulang dulu, nanti Senin Aku kembali lagi ke Jogja, nanti Kita ngopi lagi di Lek Man.” “Ya Gangsar, Saya juga senang selama di Jogja bisa ketemu Kamu.”
Aku pun segera menuju tempat parkir dan sebelum pulang menuju Solo sambil menembus derasnya hujan, Aku menyempatkan terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat Maghrib. Di bawah derasnya hujan dan temaramnya lampu jalanan, aku tidak berhentinya bersyukur karena telah mendapatkan sebuah pemahaman baru mengenai sebuah sejarah. Sejarah kelam bangsa ini. Sejarah bangsa ini yang direkayasa oleh para pemenang dan jauh dari kenyataan. Aku pun berjanji untuk membagi pengalaman tersebut, karena pesan Pak Baskara kepada kami sebelum pulang ialah sudah sepantasnya bahwa orang yang mengetahu kebenaran, menyampaikan kebenaran tersebut pada orang-orang yang belum mengetahuinya. Dan itupun sesuai dengan ajaran agamaku, sampaikanlah sebuah kebenaran walaupun hanya satu ayat dan sampaikanlah sebuah kebenaran walaupun kebenaran itu terasa pahit serta tidak semua orang akan senang dengan penyampaian tersebut.

Surakarta 28 Januari 2013

Kamis, 04 Oktober 2012

SIDANG ≠ UJIAN


Sidang. Sebuah kata yang sangat sakral bagi mahasiswa tingkat akhir. Kata tersebut (sidang) merupakan puncak dari kegiatan akademik mahasiswa sebelum dinyatakan lulus oleh pihak universitas dan layak untuk menyandang gelar akademisnya serta berhak menuliskan gelar tersebut di belakang nama lengkap. Namun, pernahkah terbersit di benak kita, apa perbedanya dan persamaanya antara sidang di ruang sidang yang sedang dihadapi oleh mahasiswa yang mempertanggunjawabkan karya tulisnya secara ilmiah di depan dosen penguji dengan sidang yang dihadapi oleh seorang terdakwa tindak pidana/perdata di depan hakim di suatu pengadilan?
Baiklah, kita akan mulai melihat dari persamaanya terlebih dahulu. Menurut ku, persamaan sidang yang dilakukan oleh mahasiswa yang sedang mempertanggungjawabkan karya tulisnya secara ilmiah di depan dosen penguji dengan sidang yang dihadapi oleh seorang terdakwa tindak pidana/perdata di depan hakim ialah, baik mahasiswa maupun terdakwa akan sama-sama duduk dalam kursi pesakitan. Kursi pesakitan karena dimaknai bahwa semua sidang bersifat zero sum (kalah atau menang). Dan baik mahasiswa ataupun terdakwa akan dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan oleh dosen penguji maupun hakim Terdakwa akan mendapatkan tuntutan-tuntutan dari jaksa penuntut umum sedangkan mahasiswa akan mendapatkan kritikan-kritikan atau tuntutan-tuntutan dari dosen-dosen pengujinya. Persamaan lainnya ialah, baik mahasiswa dan terdakwa yang sedang menghadapi sidang akan sama-sama diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan dan mendapatkan pembelaan. Pembelaan ini bisa berasal dari mahasiswa dan terdakwa itu sendiri yang menguraikan argumentasinya ataupun pembelaan tersebut bisa datang dari pengacara untuk terdakwa dan dosen pembimbing untuk mahasiswa.
Sedangkan perbedaan diantara keduanya ialah sidang yang dihadapi oleh mahasiswa cenderung bermakna positif sedangkan sidang yang dihadapi oleh terdakwa cenderung bermakna negatif. Bermakna positif, karena mahasiswa yang sedang menghadapi sidang tidak berada dalam posisi salah atau benar. Sidang yang dilakukan oleh mahasiswa sebenarnya bagian dari proses belajar itu sendiri. Sedangkan sidang yang sedang dihadapi oleh terdakwa bersifat zero sum (pembuktian benar atau salah). Jika tidak terbukti bersalah maka terdakwa tersebut akan diganjar dengan kebebasan, sedangkan jika terbukti bersalah maka hukuman pun harus siap untuk dijalani.
Aku merupakan salah satu orang yang beruntung yang pernah melakukan sidang untuk mempertanggungjawabkan karya tulis ilmiah yang pernah ku buat. Pengalaman pada saat itu (sidang) bagi ku merupakan sebuah pengalaman yang sangat berkesan dan bisa jadi sekali seumur hidup. Hal ini disebabkan karena hingga saat ini aku pun tidak akan pernah tahu apakah Tuhan di atas sana masih memberikan rezeki dan kesempatan untuk ku agar dapat menununtut ilmu dijenjang yang lebih tinggi lagi atau justru aku harus bekerja demi menafkahkan diriku serta istri dan anak ku.
Sebelum melaksanakan sidang seluruh mahasiswa pada umumnya diharuskan untuk mendaftar terlebih dahulu. Dan bagi ku menyiapkan ritual sidang sebenarnya juga merupakan sebuah proses yang cukup melelahkan dan menguras dompet. Hal ini disebabkan kita sebagai calon peserta sidang diharuskan untuk melengkapi berkas-berkas yang diperlukan untuk kelengkapan administrasi. Kelengkapan-kelengkapan tersebut diantaranya, foto, photo copy ijazah SD hingga SMA, surat keterangan bimbingan, lembar pengesahan yang telah ditanda tangani oleh dosen pembimbing satu dan dua serta ditanda tangani oleh dosen pembimbing akademik, surat keterangan peneletian, skripsi yang siap diujikan dan berkas-berkas lainnya. Ketika berkas-berkas tersebut dinilai telah lengkap oleh petugas administrasi, maka petugas administrasi akan mengetikkan form yang mana di dalamnya tertera tanggal dan waktu dilaksanakan ritual (sidang) tersebut. Di form tersebut juga tertera siapa saja dosen-dosen yang akan menguji karya tulis kita. Proses menunggu keluarnya nama-nama dosen penguji yang akan menguji karya tulis ku mampu membuat jantung ini berdegup kencang, hati bergejolak tak menentu dan bibir ini tak mampu untuk berhenti menguntaikan doa-doa kepada Yang Maha Kuasa agar mempermudah segala urusanku kedepannya.
 Tidak perlu menunggu waktu lama, siang itu setelah berkas-berkasku selesai diproses, namaku dipanggil oleh petugas administrasi dijurusanku, “Mas form ini segera diurus dibagian akademik” perintahnya. “Oh ya, enggih Mbak,” jawabku dalam bahasa kromo nginggil sebagai bentuk rasa hormat terhadap orang yang lebih tua. Aku masih mengingatnya, hari itu ialah hari Jum’at. Rajanya hari dalam satu minggu sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama yang aku anut. Orang pertama yang aku kabari bahwa aku akan melaksanakan sidang pada tanggal 19 Juli tak lain dan tak bukan ialah kedua malaikat tak bersayap yang tinggal di kabupaten penghasil beras, Karawang. “Bu InsyaAllah Kesit sidang tanggal 19 Juli,” “Oh ya Le, Ibu sama Bapak mendoakan dari sini,” sahut ibuku yang sangat antusias mendapat kabar gembira ini.
Setelah menghubungi ibuku, aku pun bergegas menuju ruang akademik. Kaki-kaki kecil ini dengan riang menuruni anak tangga satu per satu menuju ruang akademik yang terletak di bawah. Sambil berjalan aku pun menyempatkan untuk membaca nama-nama dosen penguji yang akan menguji karya tulis ku. Karya tulis yang telah aku buat selama berbulan-bulan dan banyak pengorbanan di dalam prosesnya. Dikertas yang kubawa tersebut tertera nama-nama sebagai berikut, Bapak Alfan Djamil selaku ketua penguji, Bapak Supriadi selaku sekretaris satu sekaligus dosen pembimbing pertama ku, Bapak Pra Adi selaku sekretaris dua sekaligus berperan sebagai dosen pembimbing dua ku, Ibu Adhining dan Ibu Indri selaku anggota. Kelima orang tersebutlah yang kelak akan turut ambil bagian dalam salah satu episode kehidupanku.
Ketika sedang asyik berjalan menyusuri lorong kelas, salah satu temanku Yeni menyapaku dari belakang, aku pun menghentikan langkahku untuk menunggunya dan kemudian kami berjalan beriringan, “Sar siapa saja dosen pengujinya?” tanyanya dengan suaranya yang khas. Aku tidak menjawab pertanyaannya, yang ku lakukan hanyalah menyodorkan form tersebut agar dibacanya. “Ih dosen pengujinya enak Sar.” Aku pun hanya berkata, “Alhamdulillah Yen.” Tapi hati kecil ini mengatakan “Sar jangan pernah meremehkan, siapapun dosen penguji Mu, di ruang sidang itu bersifat unpredictable.” Satu hal yang kusadari ialah dalam ruang sidang tidak ada yang bisa memprediksikannya. Bisa jadi ada mahasiswa yang diuji oleh dosen yang diklasifikasikan dosen killer namun dia dinyatakan lulus bahkan dengan nilai yang memuaskan. Bagi ku mahasiswa tersebut dikatakan layak lulus karena memang dia telah menyiapkannya sebaik-baiknya. Namun ada juga kisah-kisah tragis dimana mahasiswa kandas dalam sidang karena dia meremehkan dosen yang mengujinya, sehingga dia tidak mempersiapkannya dengan baik. Tak terasa jam di tanganku menunjukkan pukul 11.00, aku pun bergegas pulang ke kosan untuk membersihkan telinga, memotong kuku ku dan memakai wewangian dan bersegera menjawab panggilan kemenangan (adzan).
Keesokan harinya, telepon genggam ku berdering, di displaynya tertera nama Ibuku yang menelepon ku. “Le, gimana persiapannya?” tanya ibu ku di ujung sana. “Ya Bu, nanti Kesit akan menyiapkannya dengan baik,” jawab ku menenangkan ibu ku. “Oh ya Le, Bapak kemarin sudah cari tiket kereta api, InsyaAllah nanti waktu Kamu sidang biar ditemani Bapak.” Aku pun langsung tersentak kaget mendengar berita ini. “Bapak nanti mau mampir Solo dulu nengok adikmu, terus Selasa sore dari stasiun Solo Balapan naik kereta Sancaka Sore terus dilanjutkan naik kereta Mutiara Timur dari stasiun Gubeng,” papar ibu ku. “Oh ya Bu, nanti biar tak jemputnya kalau sudah sampai Jember.” Tidak kusangka orang tua ku yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang guru dengan seabrek kegiatannya ternyata berusaha untuk meluangkan waktu demi menemani anaknya yang hingga kini masih miskin prestasi ini agar dapat tenang pada saat melaksanakan sidang. Namun disisi lain, kehadiran ayah ku ini juga bisa membuat aku semakin nerveous dalam menghadapi sidang. Dan hari itu perasaanku campur aduk antara senang dan takut. Senang, karena kedua orang tua ku sangat mempedulikanku. Takut, karena takut mengecewakan orang tuaku yang telah jauh-jauh datang kemari untuk menemani anaknya.
Hari Senin aku bergegas ke kampus untuk mengurusi berkas-berkas yang kemarin sempat tertunda. Misiku hari ini ialah mendapatkan tanda tangan Pak Bayu selaku Pembantu Dekan satu (PD1). Karena berkas pendaftaran sidangku harus diketahuinya selaku PD1 yang mengurusi bagian akademik. Kebetulan pada hari ini, salah seorang senior ku juga akan menghadapi sidang. Sambil menunggu berkas-berkasku di tanda tangani oleh Pak Bayu, aku pun berbincang-bincang dengan Mbak Tutus. “Kapan Dek ujiannya?” tanya Mbak Tutus. “InsyaAllah hari Kamis besok Mbak,” jawabku. Tidak lama petugas administrasi dijurusanku datang sambil membawa kunci ruang sidang. Dan petaka itu kemudian datang menghampiriku.
“Gangsar, Kamu gak bisa ujian hari Kamis, jadwal Mu Saya undur,” jelasnya sambil terburu-buru. Aku pun tidak tinggal diam, aku segera bangkit dari posisi dudukku dan segera mengejarnya ke ruang jurusan. “Mbak kenapa ujiannya ditunda?” tanya ku meminta penjelasan. “Lho Kamu gak bisa ngurus berkas-berkas itu dalam satu hari,” terangnya. “Tapi Mbak, kemarin itu hari Jum’at, selain itu Pak Budi juga jadi panitia penerimaan mahasiswa baru jalur lokal, bahkan untuk mendapatkan parafnya saja, Saya harus menunggu kedatangannya hingga jam tiga sore,” jelasku tak mau kalah. “Terus Kamu kapan bisa mendistribusikan skripsi ke dosen pengujinya, dosen penguji harus segera menerima skripsi itu, kalau begini kan dosen-dosen penguji mu belum membaca skripsinya.” “Ya Mbak ini Saya sedang berusaha mengurusi berkas-berkasnya dan kurang tanda tangan dari Pak Bayu.” “Tidak bisa ujian mu tetap saya tunda.” “Tapi Mbak Ayah saya sudah pesan tiket dan berencana untuk menemani saya ujian.” “Ya terserah, tapi ujianmu tetap Saya tunda.”
Seketika itupun , lututku terasa lemas seperti tidak kuat menopang badan ini apalagi menopang petaka itu. Dengan langkah gontai aku pun keluar ruang jurusan dan menelepon Ibu ku. “Bu maaf ujian Kesit ditunda.” “Lho kenapa Le?” tanya ibuku penasaran. “Kesit gak bisa mengurus berkas-berkas itu dalam satu hari dan petugas administrasi di jurusan tidak mau tahu.” “Oalah Le,” suara parau ibuku terdengar jelas ditelinga ku. “Bu, tiket kereta yang sudah di pesan Bapak ada baiknya dibatalkan saja, karena Kesit juga gak tau kapan bisa sidang.” “Ya sudah Le yang sabar, nanti biar Bapak, Ibu yang ngabari.”
Saat itu, perasaanku bagaikan teriris sembilu kemudian bekas irisan tersebut digarami. Perih sekali rasanya. Sangat perih. Lagi-lagi aku mengecewakan kedua orang tua ku. Angan ini kemudian melayang, bagaimana ayahku yang sibuk itu, berusaha meluangkan waktunya, meminta cuti pada atasanya, menarik uang lebih dari tabungannya, dan siap berlelah-lelah melakukan perjalanan ratusan kilometer demi menemani anaknya sidang. Tapi sekali lagi petugas adminstrasi itu, bak robot yang tidak memiliki perasaan. Perasaanku pun membuncah dan ingin rasanya bulir-bulir air mata ini keluar dari tempatnya. Tidak lama, dosen pembimbing dua ku datang dan aku menceritakan semuanya. “Ya gak apa-apa Gangsar, semoga uang tiketnya tidak hangus dan ini mungkin ini yang digariskan oleh Yang Maha Kuasa.” “Ya Pak,” sahutku lirih. Aku pun kemudian menemui, dosen penguji ku yang lainnya yaitu Ibu Indri. “Maaf Bu tadi pagi saya yang sms, niat saya hari ini mau mendistribusikan skripsi Bu, tapi ujiannya ditunda oleh Mbak Sri.” “Lha kenapa Sar?” “Kata Mbak Sri kasihan dosen pengujinya Bu, waktunya untuk membaca skripsi Saya hanya sebentar.” “Padahal Ayah saya sudah punya rencana untuk menemani Saya pada saat Saya sidang.” “Gangsar, jujur saja ya, kalau saya biasanya ketika mau menguji skripsi biasanya baru membaca skripsi yang akan diujikan itu H-1.” “Karena kalau jauh-jauh hari justru saya takut lupa.” “Wah berarti Ibu gak masalah dengan keterlambatan saya mendistribusikan skripsi ini Bu?” tanyaku meyakinkan beliau. “Sama sekali tidak.”
Siang harinya, aku menunggu kedatangan petugas administrasi jurusanku. Beliau meminta aku untuk menemuinya siang hari setelah jam istirahat. Tidak lama menunggu beliau datang. Aku pun segera menanyakan kapan jadwal ku untuk bisa sidang. “Mbak kapan Saya bisa ujian?” tanyaku. Beliau terlihat sibuk memeriksa kalender dan melihat layar monitor komputernya. “Begini Mbak tadi Saya sudah menemui beberapa dosen penguji Saya dan sebenarnya mereka tidak keberatan kalau Saya telat mendistribusikan skripsi, karena mereka biasanya baru membacanya H-1,” terangku. “Oh ya sudah kalau gitu, jadwal sidang mu gak jadi saya undur, tapi dengan satu syarat kamu harus berhasil mendistribusikan skripsi ini dalam satu hari,” perintahnya. Bak mendapatkan berita aku menang togel, aku pun senang bukan kepalang dan segera pamit kepada petugas administrasi membawa skripsiku dan tidak lupa membawa buku distribusi skripsi. Walaupun dalam hati, aku merasa seperti dipermainkannya.
Sampai di parkiran sepeda motor masalah berikutnya datang. Aku yang sudah empat tahun kuliah di sini ternyata tidak tahu dimana alamat rumah dosen-dosen pengujiku tersebut. Tidak lama aku pun segera menelepon salah seorang temanku, Regi. Seingatku Regi ialah salah satu temanku yang membeli buku agenda dan di dalam buku agenda tersebut terdapat alamat dosen-dosenku. “Ayo Ndhuk temenin Aku distribusikan skripsi-skripsi ini, kalau Ku gak bisa mendistribusikannya dalam satu hari nanti ujian Ku bisa ditunda lagi,” pintaku pada Regi. “Ya udah, ayo tak temenin,” kata Regi menenangkan ku. “Thanks Ndhuk,” sahutku gembira. Siang itu tidak bisa ku lupakan, aku yang ditemani oleh Regi mulai berkeliling mencari rumah-rumah dosen-dosen penguji ku. Di bawah teriknya matahari, aku pun meyakinkan diriku bahwa harus bisa menyelesaikan pendistribusian skripsi ini. Akhirya sore hari sekitar pukul 17.00 aku telah rampung menyelesaikan tugas dari petugas administrasiku dan dia (petugas adminisrasi) tidak berhak untuk menunda ujianku lagi.
Debu-debu jalanan yang menemaniku siang tadi langsung ku bersihkan dan tidak lama adzan Maghrib berkumandang dari Masji Al-Muhajirin. Setelah berpakaian bersih dan memakai wewangian seadanya aku pun berjalan memenuhi panggilan-Nya. Dalam perjalanan pulang, Aku tertawa. Aku mentertawai kebodohanku sendiri. Aku pun malu dengan perilaku siang tadi yang menjadi orang pesimis dan tidak bersyukur hanya karena ada ujian kecil (ujianku diancam ditunda). Malam itu Aku bersyukur. Bersyukur karena walaupun ujianku hampir dibatalkan, namun skripsi ku telah selesai dan siap diujikan, sedangkan masih banyak dari teman-temanku yang berusaha menyelesaikan skripsinya atau berusaha dalam proses pengajuan proposal. Malam itu keyakinanku terhadap ayat-Nya semakin bertambah. Nikmat manakah yang kamu dustakan?
Esok harinya aku menelepon ibu ku. “Bu, ujiannya gak jadi ditunda.” “InsyaAllah Kesit tetap ujian hari Kamis.” “Kalau Bapak tiket keretanya sudah terlanjur dibatalkan, ya gak apa-apa, Kesit Cuma minta doa Ibu sama Bapak saja dari sana,” terangku. “Oh ya Le, gak usah khawatir, Ibu sama Bapak pasti mendoakan.” “Lha gimana buat konsumsi dosen-dosennya?” tanya ibuku. “Gak usah khawatir, temen ku Triono yang akan menyiapkannya,” jawab ku. Hari ini, aku niatkan untuk ke kampus, menghilangkan stres dengan bercanda dengan teman-teman agar besok kepala menjadi lebih segar. Selain itu, berdiam diri di kamar saja justru akan membuat ku semakin paranoid.
Tapi ternyata masalahku masih belum berakhir. Setelah ketemu teman-teman di kampus bahkan kita bercanda hingga sore hari (karena pada saat itu hujan) aku pulang ke kosan dengan kondisi kehilangan kunci kamar. Aku pun langsung membongkar tasku, bahkan aku nekat menerjang gerimis menelusuri kembali jalanan yang ku lalui tadi demi menemukan kunci kamarku dan alhasil upaya itu sia-sia. Dengan berat hati aku harus merelakan jendela dan teralis  yang dibongkar oleh teman-teman ku agar aku bisa masuk. Ya mungkin ini sudah jalan takdir ku, pikir ku dalam hati. Kalau jendela kamar tidak dibongkar, bagaimana besok aku mau melaksanakan sidang, sedangkan pakaian, materi skripsi, dan keperluan-keperluan lainnya ada semua di dalam kamar?
Malam harinya aku membuka kembali skripsiku yang telah ku cetak. Ya walaupun skripsi ini buatan ku sendiri dan aku hapal betul seluk-beluknya, namun tetap saja aku harus mempelajarinya. Satu hal yang kutangkap ialah, aku mempelajari kembali skripsi ini ialah dengan menuliskan kembali gagasan-gagasan umum dari argumentasi-argumentasi khusus yang telah ku tuliskan. Aku tidak ingin terjebak oleh detail kecilnya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji dan melupakan hal yang paling penting yakni gagasan-gagasan utamanya. Metode belajar ini aku namakan dengan sebutan rekonstruksi. Rekonstruksi, aku kembali membangun gagasan-gagasan utama dari kalimat-kalimat khusus yang telah ku buat. Karena pada faktanya ketika aku menuliskan skripsi tersebut aku mendekonstruksikannya. Dari hipotesis, kerangka teori aku dekonstruksi menjadi gagasan-gagasan sederhana yang ditambahi data yang kredibel. Halaman demi halaman skripsi mulai aku coret-coret. Di beberapa kalimat di bab empat, ku tuliskan teori mu bekerja, rumusan masalah mu terjawab dan sebagainya. Pada intinya yang ku lakukan ialah menandai agar esok hari ketika ditanyakan oleh dosen penguji aku bisa bereaksi cepat dan tidak membuat dosen penguji menunggu.
Slide presentasi yang aku buat berjumlah 14 slide. Pada awalnya banyak yang menyarankan bahwa kalau bisa slide presentasi cukup berjumlah sekitar 10 hingga 12 saja, hal ini disebabkan waktu yang diberikan untuk mempresentasikan karya tulis hanyalah sekitar 10 hingga 13 menit. Tapi bagiku yang menjadi masalah bukanlah waktu dan jumlah slide, melainkan bagaimana kita sebagai presentator mampu menarik perhatian dari dosen-dosen penguji walaupun slide yang kita tampilkan cukup banyak. Bagiku jumlah slide yang sedikit dan kita yang bisa menghemat waktu presentasi yang telah disediakan oleh dosen penguji bukan berarti menjadikan dosen-dosen penguji tertarik dengan apa yang kita tuliskan. Walaupun waktu presentasi kita lebih dari waktu yang telah disediakan, tapi kalau dosen penguji tertarik maka mereka akan lupa dengan waktu dengan sendirinya. Aku hampir terjebak membuat slide yang meriah namun tidak terbaca. Alhamdulillah, kemarin-kemarin Pak Pra Adi telah memeriksa slide ku dan memberikan beberap masukkan.
Sambil belajar, aku mencoba mengingat pesan yang pernah disampaikan oleh dosen pembimbing dua ku. “Gangsar kalau besok Kamu sidang, Kamu itu akan bertindak seperti seorang sales.” “Seorang sales Pak?” tanya ku keheranan karena tidak mengerti arah pembicaraannya. “Iya, seorang sales akan memainkan peran dan fungsinya sebagai penjual yang berusaha meyakinkan konsumen dengan barang dagangannya.” “Salesnya itu dirimu sendiri, barang dagangannya ialah skripsi Kamu, sedangkan konsumennya ialah dosen penguji Kamu.” “Kalau dua orang pembimbing Mu yang akan bertindak sebagai dosen penguji besok, tidak usah kamu khawatirkan, karena jelas Mereka sudah tahu barang dagangan Mu bahkan Mereka kenal Kamu dibandingkan dengan ketiga pembeli lainnya,” papar Pak Pra Adi. Sejenak aku mencoba memikirkan kata-kata yang disampaikan oleh dosen pembimbingku.
Aku mulai menangkap point-nya. Point-nya tak lain dan tak bukan ialah, aku harus benar-benar mampu meyakinkan ketiga orang dosen penguji ku, karena mereka memang belum mengenal skripsiku dan bahkan tidak mengenal keseharianku dan proses bagaimana aku menyelesaikan skripsi ini. Sedangkan dosen pembimbing tak lain dan tak bukan ialah mitra ku dalam menyelesaikan skripsi ini bahkan terkadang aku menceritakan tentang keluargaku, teman-temaku dan keseharianku kepada mereka setelah proses konsultasi. Oleh sebab itu, wajar jika dosen penguji akan melihat skripsi kita dari sudut pandang, ada yang kurang dan ada yang harus ditambahkan dalam skripsi ini (sudut pandang pengkritik). Sedangkan dosen pembimbing akan melihat bahwa mahasiswa bimbingannya yang melaksanakan sidang ialah mitra mereka dan relasi kami (aku dan dosen pembimbing) ialah relasi saling melengkapi. Lagi pula aku pun menganggapnya bahwa proses pembuatan skripsi, mempertanggungjawabkannya secara ilmiah hingga revisiannya ialah merupakan satu kesatuan dari proses belajar itu sendiri.
Jadi aku mulai bersikap positive thingking bahwa ketika ada kritikan dari dosen-dosen penguji ku yang spesialis dibidang yang ku angkat dalam skripsi ku tak lain dan tak bukan ialah demi perbaikan karya tulis ku semata. Bukankah pendapatan dan kritikan dari para ahli tersebut sangat kita perlukan dan sangat bermanfaat untuk memperkaya skripsi yang telah kita buat?
Malam harinya kamar ku terasa sangat dingin. Wajar saja karena pada malam tersebut selain sore harinya hujan turun dengan derasnya, kamar ku juga saat itu tidak berjendela. Di malam tersebut, aku mulai mencetak sumber-sumber yang kujadikan dasar argumen yang ku tuliskan dalam skripsi ku. Kalau ku cetak semua situs internet yang ku gunakan tentu tidak mungkin. Oleh sebab itu, aku hanya mencetak data-data yang ku dapat baik dari surat kabar, jurnal, maupun institusi-institusi pemerintah Argentina beberapa bagian saja dan itu pun data yang ku anggap penting. Mesin printer ku mulai melahap kertas sisa dari pembuatan skripsi ku. Begitu kertas-kertas itu keluar dari printer, aku mulai mengklasifikasikannya dan ku tulis dengan ballpoint ku data apa, untuk memperkuat argumenku yang mana dan terletak di bab berapa.
Sebenarnya aku tak perlu mencetak sumber-sumber tersebut, toh aku telah menyimpannya dalam hard disk ku. Tapi aku berpikiran bahwa aku tidak mau membuat dosen penguji ku ill feel dengan ku hanya karena masalah teknis, yakni modem ku mengalami gangguan ketika aku ditanyakan, “coba tunjukkan datanya!” Tidak masalah bagi ku untuk mengeluarkan kertas beberapa lembar lagi dan beberapa mili tinta. Satu hal yang ingin ku tunjukkan pada saat sidang ialah 3 P, prepare, perfect performance.
Tak terasa hari yang kutunggu-tunggu datang. Inilah hari penentuan ku. Tapi alangkah lucunya, untuk pakaian yang harus digunakan pada saat sidang pun aku masih mencari pinjaman sana-sini. Karena tidak punya celana kain, aku pun harus meminjamnya dari adik kos ku yang berkuliah dijurusan keperawatan. Pagi itu setelah aku melaksanakan sholat Duha, aku mulai membersihkan sepatu pantofel ku satu-satunya yang dibelikan oleh ibu ku waktu kami lewat kota Magetan. Dasi hitam dengan logo universitas mulai ku ikatkan di leherku. Kadang aku tertawa, semenjak dibeli dasi ini hanya aku gunakan pada saat awal masuk kuliah dan akhir ketka aku ingin meninggalkan kampus ini.
Sebelum berangkat aku memeriksa kembali barang bawaan ku. “Spidol, pulpen, tipe-x, pensil, stabilo, buku-buku materi dan buku catatan selama bimbingan” ujarku dalam hati mengabsen benda-benda tersebut. Sambil memanasi sepeda motor ku, aku mulai berpamitan pada teman-teman kos ku, “Rek dungakne yo, cek sukses” pinta ku kepada teman-teman ku. “Oyi Sar, sepurane yo gak iso ngancani, iki Aku yo enek kuliah,” jawab teman-teman ku. Aku pun berangkat menuju kampus dan dalam perjalanan, tak lupa aku bersedekah semampuku. Oh ya, tentang sedekah ini, walaupun akan mengurangi harta kita secara matematika dunia, tetapi sebenarnya sangat banyak manfaatnya. Satu hal yang kuyakini hingga saat ini, bahwa sedekah mampu menolak bala. Kalau kita bersedekah pada pagi hari makan satu hari itu pun Yang Maha Kuasa akan menggaransi (menyelamatkan) hidup kita. Yang Maha Kuasa pun akan menyingkirkan bala yang sebenarnya bisa menimpa kita kapan pun. Oleh sebab itu mulai dibiasakanlah bersedekah sebelum mengawali kegiatan kita sehari-hari.
Sesampainya di kampus, aku langsung bertemu dengan dosen pembimbingku dan aku pun segera menghubungi pelayanan kelas untuk menyiapkan viewer yang aku butuhkan. Triono pun telah tiba di kampus membawakan jajanan yang aku titipkan padanya. “Suwun yo Kep,” ujarku. “Oyi,” jawab Triono singkat. Aku pun mulai menata botol air mineral untuk ke lima dosen penguji ku. Menyiapkan buku-buku yang ku bawa, sumber-sumber yang telah ku cetak dikertas bekas dan alat-alat tulis.
Tidak lama kemudian, dosen-dosen penguji masuk ke dalam ruangan sidang. Banyak yang bilang ruangan itu sangat angker, karena di ruangan tersebut bisa mencetak sarjana baru. Sarjana baru yang sebenarnya akan menjadi tanggungan negara karena mungkin tidak langsung mendapatkan pekerjaan. Namun bisa jadi jadi ruangan tersebut akan mencetak the loser. Tapi bagi ku tidak ada pola zero sum dalam ruangan tersebut karena hakikatnya ruangan itu ialah ruangan ujian. Aku lebih senang menyebut ujian dibandingkan sidang, karena dengan ujian akan menaikkan derajat seseorang tetapi dengan ujian juga seseorang akan diuji dengan hal lainnya seperti kesabaran dan keteguhan untuk diuji kembali di ruang tersebut.
“Assalamualaikum Waruhmatullahi Wabarakatuh” suara Pak Alfan Djamil membuka ritual sidang pagi itu. “Pagi hari ini, Kita akan menguji skripsi dari saudara Gangsar Parikesit.” “Mungkin bagi saudara Gangsar Parikesit sendiri apakah sudah siap melaksanakan ujian ini?” tanya Pak Alfan kepadaku. “InsyaAllah siap lahir batin Pak,” jawabku mantap. “Apakah ada yang ingin direvisi sebelum Kita memulai sidang ini?” “Hmmm, ini Pak, Saya kemarin belum tahu siapa saja dosen penguji Saya, ini lembar pengesahannya,” ujarku seraya memberikan beberapa lembar pengesahan yang baru ku cetak tadi malam. “Lembar pengesahannya nanti saja,” ujar Bu Indri memecah kesunyian di ruangan itu.
“Baiklah Gangsar Parikesit, Kamu diberikan waktu 10 sampai 15 menit untuk memaparkan skripsi milikmu.” “Selanjutnya setelah pemaparan skripsi, Kita memasuki sesi tanya jawab,” ujar Pak Alfan yang memberitahukan kepada ku aturan mainnya. Aku pun tak menyia-nyiakan waktu. Ku buka pemaparan ku dengan slide pembukaan ku, kemudian aku mulai menguliti bab 1 ku seluruhnya. Aku pun berusaha untuk menekankan kepada dosen-dosen penguji, bahwa skripsi ku dengan judul kemenangan Cristina Fernandez De Kirchner pada pemilu presiden Argentina pada tahun 2011, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan tema-tema serupa yang telah diangkat oleh senior-senior ku.
“Walaupun tema ini pernah diangkat oleh pendahulu Saya, namun dalam skripsi Saya ini terdapat anomali.” “Dalam pemilu sela faksi partai yang dipimpin oleh Cristina Fernandez mengalami kekalahan, namun pada saat pemilu presiden di Argentina, Cristina Fernandez mampu memenangi pemilu hanya satu putaran saja.” “Hanya dalam waktu dua tahun saja, paska pemilu sela, Cristina Fernandez mampu mengembalikan kepercayaan publik pada dirinya,” tegas ku mantap.
Di slide-slide yang berikutnya, yang ku lakukan hanya mengelaborasi saja kalimat-kalimat yang telah ku tuliskan di slide. Alhamdulillah, tadi malam ku sempat belajar presentasi ditemani dengan stop watch dan berlatih merangkaikan kalimat-kalimat yang efektif. Tak terasa 14 slide telah habis ku paparkan di depan dosen penguji. Besar harapan ku pada saat itu seluruh dosen penguji tertarik dengan gaya presentasiku terutama tentang isi skripsi ku.
“Baiklah, itu tadi pemaparan mengenai skripsi yang di buat oleh Saudara Gangsar.” “Memasuki sesi berikutnya ialah sesi tanya jawab.” “Di persilakan untuk yang pertama oleh Bu Adhining,” ujar Pak Alfan seraya mempersilahkan Bu Adhining untuk bertanya. “Gangsar, tadi Gangsar menceritakan bahwa, untuk menganalisis permasalahan tersebut, Gangsar menggunakan teori rational choice, nah seberapa yakinkah kalau pilihan dari masyarakat Argentina merupakan pilihan yang rasional?” Sebelum menjawab, aku tersenyum. Entah pada hari ini aku terlalu senang atau bagaimana, tapi satu hal yang jelas aku banyak memasang senyum. Selain mampu menenangkan diri ku sendiri, senyum juga merupakan sebuah tanda persahabatan. “Baik Bu, terima kasih atas pertanyaannya.” “Saya sangat yakin, karena masyarakat Argentina memilih Cristina Fernandez berdasarkan atas program-program kerjanya yang dinilai lebih rasional untuk direalisasikan dibandingkan dengan program-program kerja kandidat yang lainnya.” “Adanya momentum, seperti pertumbuhan ekonomi, statusnya Cristina Fernandez sebagai petahanan dan terfragmentasinya kandidat oposisi, semakin menguatkan pilihan masyarakat terhadap Cristina Fernandez.” Aku kemudian tak sungkan untuk meminta izin kepada dosen-dosen penguji untuk menggunakan white board yang telah disediakan. Spidol hitam yang ku bawa mulai menari-nari membentuk diagram Tidak memakan waktu yang lama, diagram yang ku gambarkan telah tersaji. Diagram sederhana tentang perbedaan pilihan yang dilakukan oleh masyarakat rasional dan masyarakat tradisional. Dengan diagram ini aku berharap mampu menyimpulkan teori yang ku gunakan dalam menganalisis permasalahan yang ku ajukan dalam rumusan masalah ku.
Bu Adhining, terlihat puas dengan jawaban ku. “Oh ya, Gangsar, ini masih ada yang harus kamu tambahkan, data di halaman sekian coba di gambarkan dengan hubungan sistem politik Argentina.” “Ini yang Saya lihat, hanya gambar sistem politik bentuk negara republik.” “Bu untuk yang satu ini, Saya sudah mencoba mencari datanya, tapi belum menemukannya.” Kenapa Saya gunakan gambar sistem politik negara repubik karena Argentina juga merupakan negara republik.” “Jadi menurut Saya substansinya tetap tersampaikan kepada pembaca,” jawab ku dengan sopan. “Tapi kalau Ibu menghendaki untuk dituliskan gambar sistem politik Argentina, baiklah nanti akan Saya tambahkan,” ujar ku menenangkan bu Adhining. “Selain itu, Gangsar, masak sumber rujukan buku-bukunya cuma ada sedikit, sepengetahuan Saya buku tentang sistem politik dan pemerintahan negara-negara Amerika Latin itu banyak.” “Oh ya Bu, untuk buku, sebenarnya sudah saya upayakan, namun yang Saya dapatkan hanya itu, tapi Saya rasa buku itu sudah cukup sebagai rujukan dari skripsi Saya,” jawabku atas kritikan Bu Adhining.
“Bu Adhining apakah, masih ada pertanyaan lagi?” tanya ketua penguji. “Tidak Pak Saya rasa sudah cukup.” “Silahkan Bu Indri untuk memberikan pertanyaan pada Saudara Gangsar Parikesit.” Aku sempat berpikir bahwa dosen-dosen penguji ku ini ialah dosen-dosen yang telah memiliki kemampuan di bidang yang sesuai dengan tema skripsi yang aku angkat. Bu Adhining merupakan dosen sistem politik dan pemerintah negara-negara Amerika Latin. Dan sekarang tiba saatnya untuk Bu Indri yang terbiasa menghadapi metodologi dan teknis penulisan.
“Saya dari dahulu selalu penasaran dengan Anda, karena Anda memiliki nama yang unik yaitu Gangsar Parikesit.” “Kalau boleh tahu apa sih artinya?” tak ku duga ternyata Bu Indri mampu mencairkan suasana di dalam dengan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan skripsi ku. “Itu nama wayang Bu, ayah Saya pernah menjelaskan bahwa Gangsar Parikesit ialah raja di Astina dan cucu dari Abimanyu.” “Nama Gangsar Parikesit sendiri artinya ialah lancar menjadi raja di Astina Bu, selain itu nama Gangsar juga bisa berarti lancar,” jawab ku sambil tersipu malu.
“Oh begitu, baiklah, Gangsar, ini untuk bab 1 seharusnya menggunakan format penulisan trapesium terbalik.” “Tema Anda menarik, tapi kalau dengan bentuk tulisan seperti ini, pembaca tidak digiring kepada hal yang menarik tersebut.” “Kemudian Gangsar, tiap tabel dan gambar diberi kalimat pengantar, judul tabel atau gambar, dan penjelasan.” “Ini di skripsi Anda hanya sebagian, belum seluruhnya yang menuliskan kalimat pengantar, judul tabel atau gambar, dan penjelasan.” “Selain itu mungkin ada baiknya Kamu memasukkan program-program ketiga kandidat yang bersaing ke bab tiga.” “Kalau Kamu mencoba membandingkan program-program ketiga kandidat tersebut, Saya rasa orang yang expert dibidang itu belum tentu bisa melakukannya,” saran Bu Indri. “Kemudian ini masalah metodologi, di hipotesismu kamu mengajukan bahwa Cristina menang itu karena masyarakat Argentina bersikap rasional.” “Tetapi di sisi lain, Kamu juga menganggap bahwa momentum itu juga menjadi variabel penting.” “Setau Saya, hipotesis itu diangkat based on kerangka teori.” “Tolong dijelaskan!”
“Terima kasih untuk Bu Indri atas masukan-masukkannya.” “Nanti akan Saya perbaiki.” “Untuk hipotesis, Saya menganggap bahwa kerangka teori rational choice yang Saya gunakan telah sesuai, karena ada kesusaian antara momentum pertumbuhan ekonomi Argentina, status Cristina sebagai petahanan dan terfragmentasinya kandidat oposisi.” “Momentum itu semakin memperkuat rasionalitas pemilih untuk menjatuhkan pilihannya kepada Cristina Fernandez.” “Teori rational choice bagi Saya mampu meng-cover kedua hipotesis yang Saya ajukan.” “Namun sebenarnya Saya juga sempat berpikir seperti yang Ibu sampaikan.” “Tetapi Saya tidak menemukan momentum itu, dibungkus menjadi sebuah teori,” terang ku. “Ya sudah gini saja Gangsar, nanti bisa minta tolong Pak Pri tentang teori momentum tersebut.” “Pak Pri, setau Saya dulu Saya dan Pak Pri juga pernah menguji skripsi yang ada momentumnya ya.” “Tapi Saya lupa skripsinya siapa itu,” Bu Indri membuka komunikasi dengan pembimbing satu ku. “Ya sudah Gangsar, nanti kita lanjutkan di luar saja,” ujar Pak Pri menenangkan ku.
Jujuar saja, aku sangat berterima kasih diberikan dosen pembimbing seperti Pak Supri dan Pak Pra Adi. Hal ini disebabkan karena selama proses pengerjaan skripsi, aku diberikan kebebasan untuk menulis. Kami bertiga lebih sering diskusi. Banyak dari teman-teman ku yang ketika bimbingan yang terjadi ialah bukan proses dialog tetapi monolog, sehingga mahasiswa tidak bisa mengeksplorasi data dan penulisan. Jadi sebelum aku berangkat ke kampus, aku telah meyakinkan diri ku, bahwa ketika di ruang sidang aku tidak usah berharap dosen-dosen pembimbingku mampu membantu ku menjawab pertanyaan dari dosen-dosen penguji, apa lagi aku terkesan menyalahkan tentang penulisan skripsi ini ketika mendapatkan kritikan-kritikan. Skripsi ini buatan ku dan pertanggungjawaban ilmiahnya juga murni milik ku.
“Baiklah, Bu Indri, apakah masih ada pertanyaan?” “Saya rasa dari Saya sudah cukup Pak.” “Baiklah sekarang giliran Saya.” Sekarang tiba giliran Pak Alfan dosen yang expert dibidang komunikasi. Kebetulan di skripsi ku sangat banyak menganalisis komunikasi politik yang dilakukan oleh kandidat-kandidat yang bersaing. “Tadi Saudara Gangsar membicarakan masalah terorisme global, terus apa kaitannya terorisme global ini dengan skripsi Mu?” pertanyaan pertama muncul dari mulut Pak Alfan. “Oh begini Pak, Saya menyampaikan terorisme global itu hanya merupakan sebuah pembanding.” “Di Spanyol ada mantan perdana menteri yang menuduh peledakan stasiun kereta api bawah tanah dilakukan oleh kelompok teroris, ternyata mantan perdana menteri itu salah.” “Yang melakukan peledakan stasiun kereta api bawah tanah itu ialah pemberontak ETA.” “Salah tuduh itu mengakibatkan Dia tidak terpilih kembali dalam pemilu berikutnya.” “Ini hanya masalah perbandingan saja Pak, perbandingan bahwa ternyata hal itu tidak berlaku bagi Cristina Fernandez, karena walaupun kalah dalam pemilu sela, Dia bisa menang dalam pemilu presiden hanya satu putaran.”
“Dari Saya cukup.” “Baiklah Saya berikan kesempatan bagi Pak Pri dan Pak Pra Adi untuk bertanya.” “Saya tidak ada pertanyaan Pak,” ujar Pak Pri. “Kalau Saya hanya nanti masukkan-masukkan yang disampaikan oleh dosen-dosen penguji di tuliskan ya Gangsar.” “Baik Pak.” Aku sangat bersyukur, karena dosen-dosen pembimbing yang sebenarnya juga berperan sebagai dosen penguji tidak bertanya. Padahal di jurusan-jurusan yang lainnya dosen pembimbing sekaligus yang berperan sebagai dosen penguji biasanya juga akan bertanya. Sekarang coba kalian bayangkan apa jadinya seseorang dosen pembimbing yang mengetahui seluk-beluk skripsi kita itu ikut bertanya? Tapi sekali lagi masih banyak mahasiswa yang kecewa dan tidak bersyukur ketika dosen pembimbing skripsi tidak memberikan bantuan kepadanya di ruang sidang.
“Baiklah saudara Gangsar Parikesit, silahkan Anda menunggu di luar.” Aku pun dengan mantap mohon diri untuk keluar. Waktu peserta disidang di suruh keluar sebenarnya merupakan proses konsensus dari kelima dosen penguji. Apakah peserta sidang dinyatakan lulus atau tidak dan mau diberi nilai apa. Seringkali kalau peserta sidang kurang maksimal dalam memaparkan skripsi dan juga tidak begitu maksimal dalam menjawab pertanyaan dari dosen penguji akan membuat dosen-dosen pembimbing melakukan negosiasi ekstra kepada ketiga dosen penguji lainnya. Begitu di luar aku sangat lega karena teman-teman ku sudang menunggu di luar, dan belum selesai aku menjawab pertanyaan gimana tadi sidang mu. Aku terlebih dahulu dipanggil oleh Pak Pra Adi. “Baiklah Gangsar Parikesit, Kami kelima dosen penguji menyatakan Anda lulus dengan nilai A. “Selamat, semoga jodohnya lancar dan rezekinya lancar juga,” doa dari Pak Alfan seraya menjabat tangan ku diiringi dosen-dosen penguji lainnya yang juga menjabat tangan ku sebagai bentuk ucapan selamat.
Sidang yang telah ku lalui pada pagi itu memberikan banyak pelajaran berharga. Ternyata sidang tidak semenakutkan apa yang ada tertancap kuat dibenak mahasiswa-mahasiswa pada umumnya. Kalau skripsi itu buatan kita, kita tidak menjiplak dan kita jujur dalam prosesnya, apa yang harus kita takutkan? Dosen-dosen penguji sebenarnya ialah mitra agar tulisan skripsi kita lebih baik lagi. Maka sanggahlah ketika argumen yang diajukannya tidak sesuai dengan argumen dan isi skripsi kita, tetapi sanggahlah dengan santun dan tidak arogan. Yang paling ku rasakan ialah ternyata pendekatan spritualitas yang saat ini banyak dipertanyakan keberhasilannya oleh manusia-manusia modern itu terbukti manjur. Entah mengapa, aku merasa ruang sidang di dalam terasa adem ayem. Aku merasakan kehadiran Yang Lain yang aku lebih suka menyebutkannya bantuan tangan Yang Maha Kuasa yang membantu kelancaran sidang ku. Aku semakin mantap dengan keyakinan ku bahwa, tidak ada Dzat yang bisa membolak-balikkan hati, selain Dzat yang menguasai hati itu sendiri. Pendekatan spritualitas seperti sedekah, sholat malam, sholat Duha dan doa ke dua bidadari kita di rumah ternyata lebih mustajab, dibandingkan dengan perilaku kita yang seringkali memprioritaskan memohon doa dari teman-teman atau sekedar support dari pacar tapi tidak memprioritaskan doa orang tua. Aku menganggap sidang yang ku lalui bukan lah sidang seperti di pengadilan, aku lebih senang menyebutnya ujian, karena ujian bermakna positif. Ujian akan menaikkan derajat kita yang telah lolos ketika di uji. Dan ketika belum lolos dari ujian tersebut, itu berarti Yang Maha Kuasa sedang menguji kesabaran kita. 

Sabtu, 21 Juli 2012

Bidan Perkasa Dari Pulau Dewata


“Mereka pikir Tuhan tidak tahu perbuatan mereka, mereka pikir Tuhan bodoh

Itulah kalimat yang meluncur dari bibir Robin Lim. Betapa marah dan kecewanya Robin Lim ketika mengetahui ternyata banyak bidan yang hanya berorientasi pada materi. Wajar jika beliau marah ketika mendengar masih banyak bidan-bidan yang memungut bayaran dari pasiennya walaupun pemerintah telah memberlakukan program Jaminan Persalinan (Jampersal). “Apa agama dari bidan tersebut?” tanya Robin Lim kepada  bulek ku. “Islam Bu,” jawab bulek ku singkat sambil tersipu malu. “Saya tidak percaya kalau dalam ajaran agama Islam mengajarkan hal-hal seperti itu,” terang Robin Lim. “Ini bukan masalah ajaran agamanya Bu,” sanggah salah satu asistennya. “Saya sudah sering kali bilang sama Ibu, bahwa bukan ajaran agamanya yang bermasalah, tapi penganutnya yang juga masih tetap tidak taat terhadap ajaran agamanya,” terang asisten tersebut kepada kami. “Saya sering berdebat dengan Ibu mengenai hal tersebut, tetapi Ibu tetap bersikukuh dengan dengan pendapatnya.”
Sore itu saya sangat beruntung karena bisa bertemu, bersalaman dan berdiskusi dengan Top 10 CNN heroes Robin Lim. Robin Lim merupakan salah satu bidan sekaligus inspirator yang memiliki gaya hidup sederhana yang pernah saya kenal. Dedikasinya untuk masyarakat di sekitarnya tak perlu diragukan lagi. Yayasan Bumi Sehat yang didirikannya pada tahun 1995 dan terletak di daerah Nyuh Kuning, Ubud telah dikenal oleh banyak orang. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya cinderamata yang diberikan kepadanya, entah sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya ataupun sekedar bentuk ucapan terimakasih sederhana dari mahasiswi-mahasiswi Akbid yang telah bertukar ilmu dengannya. Hampir setiap hari Robin Lim mengayuh sepedanya yang berwarna merah jambu menuju klinik Bumi Sehat. Memberikan pertolongan tanpa memandang kasta dan kelas serta diiringi dengan senyuman tulus. Selain itu, Robin Lim juga sering diundang menjadi pembicara di berbagai daerah bahkan diberbagai negara.
“Kalau Ibu-ibu ingin mengundang Ibu Robin menjadi pembicara di Banyuwangi, mohon maaf untuk tahun ini (2012), Ibu tidak bisa, karena kegiatannya yang sangat padat.” “Tidak lama lagi Ibu akan bertolak ke Italia dan beberapa negara, karena Ibu memang telah lama diundang oleh negara-negara tersebut,” terang salah satu asisten Robin Lim kepada kami. Kami semua pada akhirnya mafhum dengan kegiatan beliau (Robin Lim) yang memang sangat padat sekali. “Mungkin Ibu-ibu bisa menyusun proposal acara kegiatannya dan nanti pelaksanaannya bisa pada tahun depan,” ujar asisten tersebut seraya menghibur kami. “Oh ya Mbak, biar nanti Kami susun proposalnya, kalau sudah siap, nanti Kami kirimkan,” ujar bulek  ku singkat.
Tak ingin kehilangan moment bertemu dengan Robin Lim aku pun langsung mengajukan pertanyaan dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan memang Robin Lim sekeluarga telah lama menetap di pulau dewata dan telah fasih berbahasa Indonesia. “Ibu, mengapa Ibu sangat menyarankan kepada semua orang bahkan tenaga-tenaga medis untuk menggunakan obat-obat tradisional?” “Ketika Saya masih kecil, Saya pernah sakit parah dan di rawat di salah satu rumah sakit di Filipina.” “Dokter-dokter di sana, menyarankan Saya untuk dioperasi agar bisa sembuh, namun nenek Saya menolaknya dan membawa Saya pulang dari rumah sakit tanpa sepengetahuan orang tua Saya.” Kemudian Saya di rawat oleh nenek Saya dan diobati dengan obat-obatan tradisional yang ada di sekitar.” “Hanya dalam waktu beberapa hari, penyakit Saya langsung sembuh tanpa melalui operasi,” papar Robin Lim.
Selain berfokus pada program persalinan, Yayasan Bumi Sehat yang dipimpin oleh Robin Lim juga memiliki kegiatan lainnya yang bertujuan pada pemberdayaan masyarakat. Beberapa program tersebut diantara lain ialah, program sampah daur ulang dan pendidikan kesehatan. “Saya dulu hampir setiap hari makan nasi, namun setelah dinasehati oleh Ibu bahwa gizi yang dikandung nasi kurang mencukupi, akhirnya Saya mengikuti saran Ibu yaitu makan nasi dengan campuran umbi-umbian,” papar salah satu asisten Robin Lim. “Jujur saja, Saya sekarang sangat khawatir dengan makan-makanan yang ada saat ini, karena banyak mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan.” “Contohnya ialah mie instan.” Mendengar kata mie instan yang tidak baik bagi kesehatan, aku pun langsung membela diri. Maklum naluri mahasiswa ku dengan isi dompet yang pas-pasan dan sering kali makan mie instan tiba-tiba saja muncul. “Ibu, tapi mie instan sangat cocok, karena murah dan praktis,” candaku. Namun Ibu Robin menunjukkan ekspresi kekecewaannya dengan gaya hidupku yang sangat akrab dengan mie instan. “Ya memang mie instan murah dan praktis, tapi dikemudian hari bisa menimbulkan masalah dengan kesehatan Mu,” terang Robin Lim. Nasehat tersebut rasanya sangat sederhana dan terasa sangat klasik karena semua orang awam pun mengetahuinya. Namun ketika beliau yang menyampaikan rasanya sangat berbeda. Jujur saja kharismanya yang membuatku diam seribu bahasa dan tidak bisa membantah nasehat tersebut.
Untuk masalah yang satu ini (kharisma) aku pun tidak bisa berkata-kata. Kejadian bayi yang menangis dan tidak kunjung diam walaupun telah berada dalam pelukan ayah maupun ibunya dapat diatasi dengan mudah oleh beliau. Bayi yang menangis tersebut langsung diam dan lama-kelamaan tidur pulas dalam pelukannya (pelukan Robin Lim). Selain itu, ada salah satu pemandangan yang cukup mengharukan yang ada dalam klinik kecil tersebut. Pemandangan indah tersebut tak lain ialah, kehadiran beberapa volunteer asing yang bahu-membahu dengan tenaga kerja lokal dalam menolong dan melayani pasien-pasien yang datang ke klinik tersebut. “Tidak semua bule itu kaya.” “Kita seringkali kedatangan pasien-pasien bule tapi terkadang Mereka mengatakan bahwa kondisi ekonomi mereka saat ini sedang tidak bagus.” “Dan Mereka berjanji akan langsung memenuhi kewajiban (membayar) Mereka setelah perekonomian Mereka pulih kembali,” terang salah satu asisten Robin Lim kepada kami. “Kalau di sini yang Kami perioritaskan ialah pertolongan terlebih dahulu kepada pasien yang membutuhkan.” “Perkara Mereka mampu membayar atau tidak itu urusan belakang.” Penjelasan tersebut sungguh memberikan saya sebuah inspirasi. Mungkin Robin Lim merupakan salah satu tenaga medis yang benar-benar melaksanakan kode etik tenaga medis secara tulus. Karena saat ini banyak sekali kita temui rumah sakit-rumah sakit yang mensyaratkan seorang pasien untuk mengurus administrasi terlebih dahulu baru mendapatkan pertolongan. Miris memang jika melihat kondisi tersebut. Namun tenaga-tenaga medis di rumah sakit – rumah sakit yang memiliki regulasi tersebut (menyelesaikan administrasi terlebih dahulu) juga tidak bisa bertindak apa-apa. Mereka (tenaga medis) ibarat memakan buah simalakama. Bimbang apakah harus memilih menolong pasien tersebut demi menjalankan kode etiknya namun bisa berdapampak pada teguran atau mungkin pemecatan pada dirinya. Atau hanya berdiam diri menunggu instruksi dan terpaksa melanggar kode etiknya dan melihat semakin memburuknya kondisi pasien yang membutuhkan pertolongan. Entahlah, namun faktanya memang saat ini banyak terjadi fenomena tersebut.
Satu pengalaman berharga lainnya ialah ketika aku, bulek ku serta tante Ina berdiskusi dengan salah satu volunteer dari negeri paman Sam. Volunteer tersebut memiliki spesialisasi dalam bidang yoga. Yoga yang diajarkan kepada ibu-ibu hamil yang datang ke yayasan Bumi Sehat. “Wanita-wanita yang Saya lihat di sini, sebenarnya lebih kuat dan lebih siap untuk melahirkan.” “Hal ini disebabkan karena Mereka sering beraktivitas.” “Hal ini sangat berbeda dengan wanita-wanita di Amerika.” “Di sana ketika mereka hamil, mereka rata-rata hampir tidak bekerja, hanya bersantai dan menonton televisi di rumah,” paparnya. Kami pun sedikit tertawa karena volunteer tersebut bercerita sambil memberikan sebuah demonstrasi. Keterangan dari volunteer tersebut tiba-tiba mengingatkan ku pada pendapat guru olah raga ku sewaktu SMA. “Kalau saat ini banyak Cewe yang tidak kuat lari keliling lapangan sebanyak 10 putaran itu sebenarnya nini-nini (nenek-nenek) yang di make-up’i saja.” “Karena persalinan merupakan sebuah proses yang melelahkan dan mempertaruhkan nyawa.” Mungkin pendapat tersebut ada benarnya karena saat ini karena kemajuan teknologi banyak wanita-wanita yang hamil mengandalkan persalinan dengan sesar bukan persalinan secara normal.
Keunikan yayasan Bumi Sehat juga terlihat dari pekerja-pekerja dan volunteer yang berseragam t-shirt. T-shirt yang mereka (pekerja dan volunteer) gunakan bukan t-shirt sembarangan. T-shirt tersebut merupakan t-shirt  yang diproduksi oleh yayasan Bumi Sehat sendiri. Sebuah t-shirt dengan berbagai macam warna dan logo yang khas dari yayasan Bumi Sehat tercetak besar di bagian depan. “Bulek t-shirtnya bagus ya,” ujar ku. “Kira-kira mereka masih punya lagi gak ya.” “Kalau ada Aku mau beli.” Bulek ku pun segera menanyakan kepada salah satu pekerja di sana. “Mbak t-shirt nya masih ada?” tanya bulek ku. “Ada Bu di dalam sana,” ujar pekerja itu sambil menunjuk sebuah ruangan. Kami pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah etalase tempat pernak-pernik khas dari yayasan Bumi Sehat. Kami semua, langsung melihat-lihat pernak-pernik apa saja yang dijual di sana. Ternyata pernak-pernik tersebut ialah t-shirt, sticker, tas kecil dan berbagai macam aksesoris dengan logonya yayasan Bumi Sehat.
“Berapa harga t-shirtnya Mbak?” tanyaku kepada salah satu pekerja. “T-shirtnya harganya seratus ribu.” Aku pun langsung berpendapat bahwa t-shirt dengan bahan yang biasa saja dan dijual dengan harga seratus ribu tentu sangat mahal. Sebenarnya, aku sangat tertarik dengan t-shirt tersebut, namun apa daya, sepertinya dompet ku lebih berkuasa untuk menolaknya. Alhasil aku pun tidak jadi membelinya. Bulek ku membeli tas jinjing dan beberapa sticker dan alangkah kagetnya aku waktu bulek ku membayar tas tersebut uangnya langsung dimasukkan ke dalam kotak donasi yang dibuat dari bahan kaca dan terdapat logo yayasan Bumi Sehat ditengahnya. Ternyata yayasan ini (Bumi Sehat) berupaya untuk mandiri. Selain menerima sumbangan dari berbagai pihak, yayasan ini juga berupaya untuk mandiri dengan melakukan sebagian pembiayaan operasionalnya dengan cara berjualan souvenir dan uang hasil penjualan tersebut mereka gunakan untuk memproduksi souvenir kembali dan kelebihannya digunakan untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat yang tidak mampu.
Tak terasa kunjungan kami di yayasan ini pun harus berakhir. Kami semua saling bersalaman dan mengucapkan kata perpisahan. Robin Lim bahkan memeluk dan mencium pipi bulek ku dan Tante Ina. Hari ini aku pun banyak belajar dari seorang wanita yang perkasa namun memiliki hati yang tulus. Belajar dari ketulusan seorang wanita untuk menolong sesamanya. Belajar bagaimana seorang wanita tersebut mendedikasin hidupnya untuk menolong terhadap sesamanya. Seorang wanita yang berasal dari luar negeri dan menolong tanpa  mengenal perbedaan warna kulit, agama dan kelas. Seorang bidan perkasa yang selalu mengulurkan tangannya kepada yang membutuhkan walaupun terkadang bidan perkasa tersebut berada dalam keterbatasan. 

Senin, 09 Juli 2012

Raja Kecil Di Kota Ku


Apa yang ada di dalam benak kalian ketika kalian diberikan kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan orang nomor satu di daerah kalian? Tentu sebagian besar dari kita semua akan dirundung perasaan senang bercampur penasaran. Perasaan senang muncul karena kita telah diberi kesempatan untuk dapat bertemu langsung dengan orang nomor satu dan rasa penasaran muncul karena ingin tahu sosok sebenarnya orang nomor satu secara langsung. Perasaan seperti itu (senang dan penasaran) juga meliputi diriku. Rasa itu muncul ketika menerima pesan singkat dari salah seorang temanku. Isi pesan singkat tersebut ialah sebagai berikut, “Teman-teman, besok diharapkan kehadirannya untuk diskusi dengan bapak bupati di pemkab dalam acara Kamisan jam setengah delapan.” Setelah membaca pesan singkat tersebut, anganku melayang. Membayangkan bagaimana asyiknya hari esok. Membayangkan bagaimana aku selaku mahasiswa dapat berdialog dan menyampaikan aspirasi secara langsung kepada bapak bupati.
Tak terasa sang mentari telah terbit di ufuk timur. Walaupun tadi malam aku hanya tidur dua setengah jam karena nonton bareng piala eropa, namun pagi ini aku harus melawan rasa kantuk. Untuk melawan rasa kantuk aku pun segera bergegas menuju kamar mandi. Tidak enak rasanya jika terlambat ketika bertemu dengan bapak bupati pikirku dalam hati. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh. Aku segera mengenakan pakaian batik berwarna coklat yang kumiliki. Sebelum berangkat aku pun menyempatkan diri untuk mematut diri di depan cermin. Ku pandangi wajahku dengan lekat, ternyata kantung mataku sedikit membengkak. Kantung mata membengkak ini mungkin disebabkan kurang tidur. Beberapa hari ke belakang aku memang kerap nonton bareng piala eropa dan hal tersebut berdampak pada terganggunya jadwal tidurku.
Untuk menuju pemkab dari kosanku tidak perlu memakan waktu yang lama karena jaraknya yang hanya sekitar 1,5 kilometer. Perlahan-lahan sepeda motorku mulai memasuki pelataran parkir pemkab. Di pelataran parkir, ku dapati banyak PNS mengenakan pakaian batik. Satuan polisi pamong praja juga terlihat siaga berjaga di lingkungan sekitar. Sebagian petugas DLLAJR juga terlihat bekerja sama dengan polisi lalu lintas mengatur kendaraan yang lalu lalang. Aku pun segara memarkirkan sepeda motorku. Aku mulai menyusuri lorong menuju ruang diskusi. Ruang diskusi ternyata diselenggarakan di lantai dua. Namun sebelum aku duduk dan menunggu kehadiran Bu Ciciek, Pak Supo dan Mbak Ema, aku diminta oleh salah seorang petugas untuk mengisi daftar tamu.
Di bagian resepsionis seorang pegawai telah menungguku. Ku lihat sejenak daftar tamu tersebut. Di dalamnya terdapat kolom-kolom yang terdiri dari nama, alamat, organisasi, permasalahan dan tanda tangan. Aku sempat bingung ketika menulis data di daftar tamu. Kolom permasalahan merupakan titik pusat kebingunganku. Aku pun mencoba meraba-raba permasalahan kami yang sedang kami hadapi dan akan kami sampaikan kepada Pak Bupati. Mungkin kehadiran kami di sini ialah untuk dapat berdiskusi dengan bapak bupati. Berdiskusi membahas acara festival egrang ketiga yang akan kami selenggarakan pada tanggal 7 Juli 2012. Ternyata aku mendapatkan urutan kedua yang akan ditemui oleh bapak bupati. Di jadwal, acara Kamisan akan dimulai pada pukul 07.30. Namun, waktu di jam tanganku telah menunjukkan pukul 07.40 dan tanda-tanda diskusi akan dimulai juga tak kunjung nampak.
Tak lama waktu berselang Mbak Ema pun tiba. “Gangsar sudah isi daftar tamu?” tanya Mbak Ema. “Sudah Mbak, Kita dapat nomer urut dua,” timpalku singkat. “Hah nomer urut dua?” “Berarti Aku harus segera mengabari Mas Supo dan Mbak Ciciek,” terang Mbak Ema dengan nada sedikit panik. Tidak lama sedikit demi sedikit tamu-tamu yang ingin berdiskusi dengan bapak bupati mulai berdatangan. Kami semua dikumpulkan di sebuah ruangan. Ruangan tersebut juga telah ditata rapi dengan kursi-kursi dan meja-meja yang cukup mewah bagiku. Di ruangan tersebut juga terdapat enam lukisan besar yang gagah terpaku di tembok. Ada lukisan yang menggambarkan komoditas khas kotaku yaitu tembakau. Ada lukisan yang mengisahkan kesenian tradisional karapan sapi dan beberapa lukisan perjuangan para pahlawan ketika merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Sambil menunggu kedatangan Bu Ciciek dan Pak Supo, aku dan Mbak Ema pun berbincang-bincang. Kami berbincang-bincang masalah seputar Tanoker (komunitas bermain dan belajar). Sambil berbincang-bincang mataku mulai mengamati beberapa pegawai yang terlihat sibuk mondar-mandir membawakan aneka jajanan pasar. Jajanan pasar tersebut beraneka ragam, mulai dari lumpia, kue lapis, naga sari dan lain-lain. Minuman yang disediakan juga bervariasi, mulai dari kopi, teh dan air mineral. Semua jajanan pasar tersebut di tata di meja-meja yang telah tersedia, sedangkan untuk kopi dan teh disediakan di dalam termos besar dengan cup kecil di sampingnya. Karena dari tadi pagi aku belum sarapan, aku pun segera mengambil kue lapis dan nagasari. Tak lupa aku mengambil satu cup kopi panas untuk menemani jajanan pasar yang telah ku ambil. Tak terasa hampir satu jam kami berbincang-bincang dan tamu-tamu yang berdatangan sudah terlihat makin banyak. Namun tanda-tanda bapak bupati ingin menemui kami semua belum terlihat.
Tidak lama Bu Ciciek dan Pak Supo tiba. Aku dan Mbak Ema langsung bersalaman dan mencari tempat duduk. Sambil menunggu bapak bupati kami berempat pun berbincang-bincang kembali. “Gangsar kamu dapat undangan dari Pak Sujud,” kata Pak Supo. “Jangan lupa ya, nanti buatkan piala bergilir untuk Pak Sujud dan Mbak Desi,” tambah Pak Supo. “Apa Pak, piala bergilir?” tanyaku terheran-heran dengan usul yang tidak biasa dari Pak Supo. “Ya sudah Pak, nanti coba saya carikan,” ujarku menenangkan Pak Supo.
Hampir dua jam aku dan sebagian peserta acara Kamisan menunggu di ruangan ini. Menunggu datangnya bapak bupati. Menunggu untuk dilayani, didengarkan atau sekedar melihat sosoknya secara langsung. Namun hingga saat ini, kami yang memilih beliau menjadi pemimpin kami dan kami juga yang harus menunggu beliau. Sungguh berbeda 180 derajat dengan kondisi waktu bapak bupati membutuhkan suara kami. Acara Kamisan ini memiliki tujuan yang mulia. Acara Kamisan bertujuan sebagai proses hearing (mendengarkan keluhan dan aspirasi dari maysarakat). Sehingga besar harapan tercapainya kesepakatan mengenai penyelesaian masalah dari kedua belah pihak. Bagi bapak bupati diharapkan dengan adanya program ini (Kamisan) dapat mengetahui keluhan-keluhan apa saja yang dirasakan oleh masyarakat, mengetahui aspirasi masyarakat dan mengetahui respon dari kebijakan-kebijakannya yang telah diimplementasikan. Bagi masyarakat sendiri dengan adanya program ini diharapkan mereka dapat langsung menyampaikan aspirasinya kepada bapak bupati. Harapan kecil dari masyarakat sebenarnya ialah adanya perasaan tenang. Tenang karena mereka telah bertemu dan dapat menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada bapak bupati. Perkara permasalahan yang mereka hadapi ditindaklanjuti atau tidak, sepertinya mereka tidak terlalu peduli. Namun naas, alih-alih kita bisa bertemu dengan bapak bupati tepat waktu,  justru yang ada ialah hampir dua jam kami ditelantarkan oleh bupati kami. Orang yang beberapa tahun lalu memohon kepada kami agar kami memilihnya sebagai pemimpin kami. “Seharusnya Pak Bupati keluar sebentar dan mengatakan kepada Kita semua bahwa masih ada urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu,” terang Pak Supo. “Kalau kondisinya seperti ini kan, Kita yang ada di sini menjadi resah karena seolah-olah Kita menunggu tanpa kepastian.” Benar juga pikirku. Apa sulitnya bagi seorang bupati untuk keluar sebentar dan mengatakan kepada konstituennya untuk menunggu sebentar karena masih ada urusan yang masih harus diselesaikan. Atau paling tidak bapak bupati bisa memerintahkan stafnya. Namun itu semua tidak dilakukannya.
Saat yang ditunggu-tunggu oleh kami dan seluruh peserta diskusi lainnya pun tiba. Akhirnya bapak bupati pun tiba di ruang diskusi. Kedatangannya di temani oleh beberapa staf. Baik bapak bupati dan beberapa stafnya hari ini berpakaian batik. Bapak bupati duduk dikursinya sedangkan staf-stafnya duduk di belakangnya. Persis seperti raja yang ditemani oleh para penasihat kerajaan. Tamu pertama pun dipanggil oleh salah satu staf bapak bupati. Bapak bupati langsung menyalami tamunya, “Ada yang bisa Saya bantu,?” tanya bapak bupati. Tidak lama ku lihat mereka mulai berdiskusi mengenai permasalahan yang sedang dihadapi oleh tamu pertamanya. Para staf terlihat mulai sibuk mencatat.
Diskusi yang dilakukan oleh bapak bupati dengan tamunya yang pertama tidak memakan waktu lama. Setelah itu, salah satu staf memanggil namaku. “Berikutnya, atas nama Gangsar Parikesit, alamat di jalan brantas XXV.” “Ayo Pak, Bu, Kita sudah dipanggil,” ujarku kepada Pak Supo dan Bu Ciciek. Kami berempat langsung bertatap muka dengan bapak bupati, menyalaminya dan langsug duduk dihadapannya. “Ada yang bisa Saya bantu?” tanya bapak bupati kepada kami. “Begini Pak, kami dari Tanoker Ledokombo, mau menyampaikan bahwa Kami minta dukungan dari Bapak.” “Rencananya pada tanggal 7 Juli, Kami mau mengadakan acara festival egarang yang ketiga,” jelas Pak Supo kepada bapak bupati. “Oh ini teman-teman dari Tanoker ya?” “Kok alamatnya di jalan brantas?” tanya bapak bupati terheran-heran. “Begini Pak, tadi yang mendaftar itu Gangsar, Dia salah satu mahasiswa yang ikut berpartisipasi di Tanoker,” papar Pak Supo. “Oh begitu.” “Sebenarnya Saya ingin sekali bisa bertemu dengan teman-teman di Tanoker, tapi memang hingga saat ini, Saya belum sempat,” jelas bapak bupati. “Nah ayo Pak, main-main ke Ledokombo,” tutur Bu Ciciek mengundang bapak bupati. “Begini saja, Saya pingin lihat adik-adik latihan, kapan kira-kira Saya bisa bertemu dengan adik-adik di sana?” pinta bapak bupati. “Kalau waktu terserah Bapak, adik-adik bisa kami kondisikan,” terang Bu Ciciek. “Bagaimana kalau hari Rabu, karena pada tangga 20 Juni Kami mau mengadakan lomba melukis egrang.” “Syukur-syukur Bapak bisa membuka acara tersebut,” pinta Bu Ciciek. Bapak bupati terlihat berpikir, beliau kemudian menolehkan kepalanya ke belakang dan bertanya, “Saya hari Rabu tanggal 20 ada jadwal tidak?” tanyanya kepada salah satu stafnya. “Kalau tidak ada, tolong disusun jadwalnya, biar Saya bisa berkunjung ke Ledokombo, perintah bapak bupati kepada stafnya. Di tengah-tengah kami berdiskusi dengan beliau, beliau mulai mengambil kertas pakpir, mengisinya dengan tembakau dan setelah menatanya beliau mulai memilin kertas tersebut menjadi sebatang rokok. Untuk merekatkan kedua ujung kertas pakpirnya, beliau pun menggunakan perekat alami, yakni air liurnya sendiri. Tak lama, api mulai membakar rokok hasil lintingannya. Aroma tembakau pun mulai menusuk hidung kami. Namun beliau dengan santai tetap melanjutkan pembicaraan dengan kami.
Bapak bupati yang merokok ketika berdiskusi di depan kami, membuat kami sedikit illfeel. Hal ini disebabkan oleh kurang adanya rasa hormat kepada kami. Mungkin banyak dari peserta diskusi yang seorang perokok. Namun aku rasa, mereka (peserta diskusi yang perokok) masih memiliki rasa hormat dan sungkan. Sungkan ketika berdiskusi dengan bapak bupati sambil merokok. Sambil menaruh rokoknya di asbak, bapak bupati kemudian bertanya, “Terus kenapa pelaksanaan festival egrang harus di Ledokombo, bukankah Kita memiliki alun-alun yang luas dan berada di pusat kota?” tanya bapak bupati. “Memang kami memfokuskan diri untuk memberdayakan masyarakat di Ledokombo terlebih dahulu,” jelas Bu Ciciek. “Terus rencana jangka panjang temen-temen di Tanoker ini apa?” “Mimpi Kami ialah ingin membuat museum permainan tradisional,” papar Bu Ciciek. “Ayo ikut Saya sebentar,” ajak bapak bupati kepada kami. Kami pun kemudian diajak oleh beliau masuk ke dalam ruang kerjanya. Baru pertama kali ini, aku bisa masuk ke dalam ruang kerja bapak bupati. Ruangannya cukup lebar. Di dalamnya terdapat beberapa hiasan, vandel dan beberapa penghargaan. Beberapa harian surat kabar nasional juga tergeletak di mejanya. Bapak bupati pun menggiring kami ke dua buah maket. Satu buah maket tampak seperti ruang terbuka hijau dengan stadion di dalamnya dan satu buah lagi merupakan maket dari stadion itu sendiri. “Rencanya Saya mau membuat ruang terbuka hijau.” “Mungkin nanti Saya bisa memberikan beberapa hektar lahan untuk Anda kelola menjadi sebuah musium permainan tradisional,” jelas bapak Bupati. Setelah mendengarkan beberapa penjelasan mengenai proyek pembangunan ruang terbuka hijau dan stadion, kami pun kembali ke ruang diskusi. Tidak lama pembicaraan diantara kami pun berakhir. Hasil pembicaraan tersebut ialah beliau sangat mendukung acara festival egrang yang akan kami selenggarakan dan beliau juga berjanji akan mengunjungi kami pada tanggal 20.
Melalui acara Kamisan ini saya banyak belajar. Belajar bagaimana seharusnya saya bisa memperlakukan rakyat saya kelak ketika menjadi pemimpin. Belajar untuk bisa lebih dekat lagi dengan rakyat dengan mendatanginya secara langsung dan bukan mereka yang saya panggil ke dalam istana saya. Dan tiba-tiba saya teringat dengan ucapan Pak Supo, “kata Prof Kusnadi, pemimpin dan rakyatnya itu ibarat jari-jari tangan.” “Pemimpin itu disimbolkan dengan jempol dan rakyat disimbolkan dengan keempat jari lainnya.” Saya pun sempat berpikir apa maksud dari kalimat Pak Supo. Namun kita coba bersama-sama. Coba dekatkan keempat jari anda ke jempol anda. Susah bukan? Dan coba anda bandingkan jempol anda yang mendekati keempat jari anda. Mudah bukan? Pemimpin pun seperti itu, lebih mudah bagi pemimpin mendekati rakyatnya dibandingkan dengan rakyat yang harus mendekati pemimpinnya. Namun dalam acara Kamisan ini saya tidak melihat raja kecil tersebut layak dijadikan sebagai seorang pemimpin. Raja kecil tersebut masih belum bisa mengayomi dan bersikap santun ketika menemui rakyatnya di istananya. Semoga kelak terpilih raja kecil yang benar-benar bisa berperan seperti ibu jari yang mengayomi jari-jari yang lainnya.